IBAS Homepage
   
 

Krisis Ekonomi: Resiko Sebuah Kebebasan?

Pakar Ekonomi Paul Krugman yang pernah dicalonkan sebagai penerima Penghargaan Nobel tahun 1998 menulis buku tentang ancaman depresi ekonomi: ‘’The Return of Depression Economics”. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Mandarin, dan mendapat berbagai tanggapan serius pakar ekonomi China. Anggapan bahwa resensi buku ekonomi harus ditulis oleh pakar ekonomi adalah kurang fair, bukankah masalah ekonomi adalah masalah kehidupan sehari-hari rakyat biasa? Kurang demokratis kalau para pelaku ekonomi tidak mendapat kesempatan untuk memberikan tanggapan. Di samping itu, bukankah resensi buku ekonomi selama ini terkesan terlalu serius, kering dan kurang merakyat?. Inilah ‘resensi buku’ seenaknya versi saya:

Download original PDF format

Paul dan Forum Bank Dunia

Hampir semua pakar ekonomi mengenal Paul Krugman, saya juga, tapi dari jauh saja, jabat tanganpun belum pernah. Saya berjumpa dengan Paul dua kali, satu kali di Forum Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan IMF di Washington DC Oktober 1998, satu kali lagi melalui bukunya ‘The Return of Depression Economics”. Bukunya yang saya paksakan untuk baca inipun tertulis dalam bahasa Mandarin. Entah apa yang mendorong saya untuk membeli bukunya, saya bukan ahli ekonomi, hanya mungkin karena pernah ‘ketemu’ Paul dan ‘kaget’ menjumpai buku Paul dijual di toko buku Shanghai dalam bahasa Mandarin. Jadi kangen juga sama si Paul...

Kesan pertama jarak jauh terhadap Paul adalah bahwa orangnya agak mengawan-awan, tidak ‘down to earth’, apalagi pada tahun 1998 itu dia adalah salah satu calon penerima hadiah Nobel bidang ilmu ekonomi. Kesan kurang sreg ini saya dapatkan saat mendengar penyampaiannya di Forum Bank Dunia yang bergengsi itu. Dia adalah pembicara pertama setelah kata sambutan pembukaan Forum oleh direktur Bank Dunia dan IMF. Dia menyampaikan rencana A, B, C-nya untuk mengatasi krisis ekonomi Asia.

Paul begitu yakin dengan ‘resep obat’nya, sehingga saat pembicara ke dua mengeritik rencananya secara halus tapi tegas, dia terperanjat, apalagi pembicara ke dua ini adalah ahli ekonomi dari negara yang sedang terlanda krisis berat-Indonesia, seorang wanita pula!. Siapa yang berani menantang secara terbuka terhadap ide-ide Paul Krugman, calon penerima hadiah Nobel saat itu ? Seorang ibu setengah baya berpakaian sari bangsa Bangladesh wakil dari ADB (Asia Development Bank) yang duduk di sebelah saya sampai berdecak kagum terhadap kehebatan pembicara wanita ahli ekonomi dari Indonesia ini. Dia tanya, anda kenal wanita ini? Saya jawab tentu saja, saya dari Indonesia juga. Ibu itu lalu berkomentar ‘Indonesian people are very lucky, she can be your good financial minister’; Oh Thank you very much.

Paul dan Buku Barunya

The Return of Depression Economics Front cover

Perjumpaan ke dua dengan Paul adalah lewat bukunya. Seumur hidup baru pertama kali saya serius baca buku ekonomi, setelah membaca bukunya dan menelan tanggapan-tanggapan para pakar baik di koran maupun di majalah, kesan saya terhadap Paul mulai berubah. Buku baru Paul ini ditulis dengan bahasa yang enak dibaca dan sangat akrab bagi orang-orang yang mengalami krisis ekonomi yang masih berlangsung saat ini. Tapi membaca buku ekonomi, bagi saya mirip dengan belajar ilmu filsafat atau sosiologi, misalnya konsep ‘liberalisasi’ atau ‘kebebasan’ dalam ilmu ekonomi adalah masalah yang sama membingungkan.

Dalam menghadapi abad baru ke-21, walaupun perkembangan ekonomi dunia tidak begitu menjanjikan, tapi karena revolusi informasi terus berlangsung, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan terus dipacu, masa depan tampaknya makin indah, seolah-olah suatu ekonomi pasar dunia segera terwujud di awal abad baru ini. Para pendukung globalisasi serempak dengan bangga meng-claim bahwa ini adalah berkah dari ekonomi pasar-bebas. Betulkah? Boleh-boleh saja mengakui ini jasa dari konsep ekonomi pasar-bebas. Tapi perlu diingat bahwa tidak ada satu simfoni yang sempurna, ada saja nada fals dalam suatu konser. Kalau globalisasi demikian sempurnanya, lalu bagaimana kita bisa menjelaskan krisis ekonomi di Meksiko pada tahun 1994 ? Bahwa dalam satu malam jutaan orang Meksiko kehilangan pekerjaan karena investor melarikan modalnya. Apakah ini suatu ‘kebebasan’ ? Contoh lain, pada tahun 1997 dan 1998, saat krisis perbankan di Indonesia, adakah pilihan atau kebebasan bagi para nasabah bank yang sangat ketakutan antri di depan mesin ATM ? Satu contoh lagi, dalam 20 tahun terakhir, perekonomian Jepang berusaha membebaskan diri dari model ‘kapitalis birokratik’ menuju ke ekonomi pasar yang lebih liberal, tapi Jepang justru terjebak dalam lumpur, terjadi resesi ekonomi pada tahun 1990-an dan belum juga pulih sampai saat ini. Lalu apa bagusnya ‘liberalisasi’ ini ?

Permasalahan ini tidak semudah yang tampak dalam permukaan yang dapat dijelaskan dengan baik. Untung saja masih terdapat pakar-pakar pintar yang berusaha meyakinkan kita semua. Misalnya Paul Krugman dalam bukunya “The Return of Depression Economics” mengupas dengan sangat jelas proses, sebab dan akibat krisis ekonomi, sambil memperingati bahwa bila keadaan ini dibiarkan maka kejadian depresi ekonomi dunia tahun 1930-an akan terulang kembali dan mengancam dunia. Resesi ekonomi di Jepang dan krisis keuangan di Asia Timur adalah tanda-tanda adanya ancaman itu.

Bagi Paul Krugman, masalah Jepang sebenarnya sederhana sekali, Jepang hanya terjebak dalam ‘jebakan likuiditas’, artinya apapun kebijakan yang diambil pemerintah Jepang, baik yang halus membujuk maupun keras memaksa, rakyat Jepang tetap keras kepala menyimpan uang dan tidak mau membelanjakannya. Sedangkan masalah di Asia Timur lebih banyak disebabkan Krisis Ekonomi, karena hilangnya kepercayaan pasar. Krisis kepercayaan ini berubah menjadi malapetaka besar setelah proses ‘pengendalian krisis’ oleh penguasa yang lebih ditujukan untuk menyelamatkan kepentingan kelompok atau diri sendiri seperti yang dilakukan pemerintah Indonesia di bawah Soeharto dan Habibie.

Dalam badai krisis tersebut lembaga perbankan yang paling mudah runtuh. Bila suatu bank sudah dicurigai, dia akan hancur karena dananya akan habis ditarik oleh nasabah, walaupun keadaan neraca bank tersebut sesungguhnya sehat dan managemennya dikelola secara profesional. Demikian juga dengan para investor. Bila suatu lembaga keuangan sudah tidak dipercayai oleh investor, lembaga tersebut akan hancur karena larinya para investor dan mundurnya perekonomian. Seperti yang dialami oleh BCA dan Bank Bali.

Akan tetapi perbedaan tetap ada. Di Australia dan Inggris misalnya, melemahnya mata uang tidak mengakibatkan resesi ekonomi. Bandingkan dengan Thailand, jatuhnya mata uang Thailand Baht menyeret seluruh kawasan Asia Timur ke dalam lumpur dan mengakibatkan krisis keuangan yang berkepanjangan di kawasan ini.

Bila jawabannya adalah karena perbedaan dasar kepercayaan, lalu dalam kondisi kurangnya persiapan mental menghadapi pasar-bebas, mengapa negara-negara Asia Timur tersebut ngotot dan tergesa-gesa membebaskan pasar mereka ?

Tentu saja tidak ada yang bisa memprediksi sebelumnya. Pada awal tahun 1990-an semua orang kagum dengan perekonomian di negara-negara Asia Timur, sulit membayangkan adanya kelemahan psikologi pasarnya. Tapi setelah krisis terjadi, apa yang telah dilakukan pemerintah dan dunia internasional ? Yang kita amati adalah di bawah dukungan dan desakan IMF, pemerintah kawasan ini menaikkan tingkat suku bunga dan pengetatan pengeluaran agar tercapai keseimbangan anggaran. Di samping itu hampir semua pemerintah mengambil sikap atau kebijakan dengan menghukum para kapitalis bobrok, kroni dan konglemerat sebagai landasan pemulihan perekonomiannya. Kebijakan demikian justru makin menjerumuskan perekonomian ke dalam jurang, padahal tujuan sebenarnya adalah memulihkan kepercayaan pasar. Ini menimbulkan dilema: para investor sudah kehilangan kepercayaan, apa yang dapat dilakukan ? Bila mengikuti resep umum menghadapi kemunduran ekonomi yaitu menurunkan tingkat suku bunga dan pelonggaran anggaran agar dapat merangsang perekonomian, para investor akan mendapat kesan bahwa pemerintah justru sudah kehilangan kendali. Akibatnya kepercayaan makin melorot, pelarian modal makin menjadi-jadi dan melemahnya nilai tukar mata uang. Dalam keadaan parah demikian, investor yang tadinya memilih ‘tidak ikutan lari’ akan melihat krisis keuangan mulai melanda mereka karena kerugian dalam nilai tukar. Karena tidak ada investor yang mau rugi, maka biasanya yang tidak mau lari juga terpaksa memilih angkat kaki menghindari krisis. Dari sinilah para pejabat dan pakar ekonomi IMF berpendapat bahwa apa yang dapat dilakukan pemerintah Asia Timur saat ini adalah ‘berpura-pura’, melalui resep ‘bunuh diri’ seperti yang dijelaskan di atas, pemerintah berusaha memberikan kesan kepada para investor bahwa: wahai para investor, kami memiliki perangkat dan komitmen yang mendukung pasar-bebas, memiliki kemampuan dan kepercayaan pemulihan ekonomi, kalian tidak perlu melarikan diri, kami akan memberikan kalian harapan dan perlindungan, dan seterusnya.

Konsep demikian tidak salah, akan tetapi Paul Krugman bertanya apa perlu diadakan ‘permainan kepercayaan’ atau ‘mempermainkan kepercayaan’ demikian?. Tidak dapatkah dicarikan solusi sederhana yang dapat diterima semua pihak ? Dalam kenyataannya di Asia Timur, solusi demikian sebetulnya ada yaitu pengendalian transaksi valuta asing. Akan tetapi selain Mahatir, hampir tidak ada orang lain yang mau menerimanya. Karena banyak orang sudah terbius dengan konsep bahwa hanya ekonomi pasar-bebas yang dapat memberikan kemakmuran, bahwa pengendalian valuta asing bertentangan dengan kebebasan ekonomi pasar, hal ini tidak baik. Bahkan Presiden Brasil pernah mengatakan bahwa tindakan pengendalian valuta asing akan merusak nama negara dan tidak bisa membuat negaranya menjadi ‘kelas dunia’. Paul Krugman menilai pendapat demikian yang sudah menjurus seperti suatu dogma agama sangat mencengangkan. Banyak orang tidak melihat fakta bahwa para investor yang tadinya tidak ingin lari dalam menghadapi pukulan krisis tiba-tiba kehilangan kebebasan untuk tidak ikutan lari. Seperti nasabah bank yang tadinya masih percaya kepada lembaga bank untuk menyimpan uangnnya sekarang kehilangan kebebasan untuk percaya.

Kembali ke masalah Jepang, sebetulnya ada satu cara sederhana menghadapi ‘jebakan likuiditas’ yaitu dengan cara menaikkan inflasi. Ini tidak sulit dimengerti: bila nilai mata uang diturunkan sampai titik terendah, bahkan mendekati nol, dan ternyata masih juga tidak bisa memaksa orang membelanjakan uangnya, maka paling tidak mereka akan dihadapkan dengan resiko devaluasi. Tapi para liberalisme akan mengecam bahwa menaikkan inflasi dengan sengaja adalah suatu kejahatan. Akibat inflasi adalah kenaikan harga barang-barang, sama sekali tidak mempengaruhi pendapatan perorangan, oleh sebab itu tidak akan mempengaruhi sektor riil. Ini tentu saja lagu lama: tidak ada makan siang yang gratis ! Artinya tidak ada pendapatan tanpa pengeluaran. Akibatnya, pemerintah Jepang tidak melakukan apa-apa dan ekonomi Jepang tetap jalan di tempat. Inikah harga dari suatu kebebasan?

Berbicara mengenai makan siang, adakah makan siang yang gratis? Paul Krugman bilang ada saja, asal kita berani mengulurkan tangan meminta. Karena pada keadaan resesi ekonomi terdapat banyak sumber daya nganggur yang bisa diperdayakan. Dia menunjukkan bahwa:” Bila kita tidak mengadakan analisis dengan jernih permasalahan sekarang dan tidak mempertimbangkan kenyataan di lapangan, kita tidak mungkin mencapai pengertian yang kita butuhkan....Satu-satunya hambatan struktural menuju kemakmuran dunia adalah pola pikir kuno yang masih membelit otak manusia”. Di sini sikap Paul menjadi sangat pragmatis dan realitis. Sikap ini persis seperti yang dikemukakan oleh wanita ahli ekonomi Indonesia itu dalam Forum Bank Dunia waktu mengeritik Plan-A, Plan-B nya Paul. Kira-kira demikian ‘...Yang diharapkan masyarakat terkena krisis seperti di negara saya Indonesia adalah tindakan nyata jangka pendek Bank Dunia dan IMF untuk mengatasi kelaparan massal, bukan teori Plan-A, Plan-B dan seterusnya. Bagaimana kita di Washington yang duduk enak di kantor nyaman dapat memberikan solusi, tanpa meresapi sendiri gejolak krisis di lapangan? ...”

Paul dalam bukunya menyebut-nyebut China tapi tidak membahas secara khusus model perekonomian China, yang sepanjang tahun 1990-an berkembang dengan pesat, bahkan menjadi ‘juru selamat’ bagi negara-negara Asia Tenggara pada tahun 1998 karena tidak mendevaluasikan mata uang renmimbinya. Apakah model perekonomian di China belum menarik untuk dibahas karena China belum menjadi anggota negara-negara yang menganut sistem perekonomian pasar-bebas ? Tapi bukankah China sejak dulu ingin masuk WTO, bahkan kebelet sekali. Hanya karena dituduh masih mempunyai masalah pelanggaran HAM, keanggotaan China di WTO dijegal, terutama oleh negaranya Paul Krugman-Amerika Serikat. Bila China pada akhirnya masuk WTO dan membuka pasarnya, lalu terjadi krisis gejolak sosial dan politik karena banyaknya pengangguran, apakah resiko ‘kebebasan’ ini yang mau dipertaruhkan pemerintah China ?. Buku Paul ini tentu dapat memberikan petunjuk bagi China bagaimana menghindari bahaya krisis serupa seperti yang dialami Meksiko dan kawasan Asia Timur.

Kebebasan bisa jadi semacam aliran agama. Biarpun dia tampak indah dan benar, kenyataannya adalah bahwa dia tidak mungkin sempurna. Justru bila kita tidak menuntut suatu kebebasan mutlak mungkin kita akan menikmati hidup ini dengan lebih santai. Bila kebebasan dapat membawa kita ke jurang krisis, lebih baik kita tidak menuntut kebebasan itu. Mungkin ekonomi pasar-bebas akan menguntungkan untuk jangka panjang. Tapi bila kita semua tidak bisa hidup ‘jangka panjang’, lebih baik kita berusaha hidup lebih enak dalam ‘jangka pendek’ saja...he..he..(AH)