IBAS Homepage
   
 

Perang Teluk Babak II: Untuk Siapa?

Genderang perang bertalu-talu makin seru. Amerika sedang menyiapkan perang di Teluk kembali menyerang Irak. Sekarang lengkap sudah alasan untuk perang, dengan tuduhan bahwa Irak adalah negara paling berbahaya dengan 5 gelar, selain gelar negara diktator, negara teroris, baru-baru ini Inggris ikut-ikutan mengeluarkan tuduhan bahwa Irak memiliki senjata nuklir, kimia dan senjata kuman. Bah!

Download original PDF format

Mengapa Amerika ngotot menyerang Irak ? Kesimpulan hanya satu bahwa tindakan itu untuk kepentingan Amerika sendiri. Bahwa walaupun Amerika memiliki kehadiran militer di Timur Tengah, tapi itu hanya berupa beberpa basis militer yang disewa dari negara-negara sahabat, tidak mampu berbuat banyak baik secara hukum maupun operasi militer. Timur Tengah bukan saja adalah gudang minyak dunia, juga adalah sarang teoris antiAmerika. Jadi bilaAmerika bisa menguasai Irak, ada beberapa keuntungan:

Pertama, menggunakan Irak sebagai basis militer, kalau berjalan lancar, setelah menaklukkan Irak, mumpung masih panas, sekaligus memakan Iran. Dengan demikian paling tidak sudah bisa melenyapkan 2 negara poros setan dari total 4 yang dituduhkan Bush (dua lagi adalah Libia dan Korea Utara). Ke dua, memberi tekanan militer terhadap negara-negara Teluk, memaksa pemerintah negara-negara Teluk membasmi kelompok ekstrim antiAmerika. Ke tiga, melaksanakan strategis pengendalian harga minyak mentah dunia. Ke empat, memantapkan posisi Amerika sebagai Penguasa Dunia agar negaranegara lain takut.

Posisi Irak sangat lemah karena sudah terisolasi lebih dari 10 tahun. Maka tanpa bantuan dari sekutupun, Amerika akan mampu menaklukkan Irak dengan kekuatan militer sendiri.Tentu saja, kalau Irak mendapat dukungan dari luar, hasilnya akan lain. Tapi Amerika rupanya sudah memperhitungkan bahwa dalam aksi perang kali ini tidak ada negara yang berani membantu Irak.

Bush demikian getol menyerang Irak karena bila berhasil akan sangat menguntungkan posisi dia dan partainya pada pemilihan presiden Amerika tahun 2004, akan tetapi tindakan Bush tersebut akan membuat kerepotan bagi banyak negara.

Pertama, bagi negara-negara Teluk. Bila tentara Amerika mendirikan basis militer di Irak, sama seperti pedang diletakan di tenggorokan mereka, setiap saat Amerika dengan mudah menaklukan negara-negara tersebut. Tidak perlu lagi peluru kendali, pesawat pembom, cukup dengan meriam biasa. Betapa menghemat biaya. Bush memang pintar dan licik.

Ke dua adalah Israel. Negara kecil ini hampir tidak mempunyai sumber daya alam. Israel praktis hidup dan bertahan dari sumbangan dana atau belas kasihanAmerika. BilaAmerika sendiri menjadi tuan rumah diTimurTengah, peranan Israel di Timur Tengah menjadi kecil atau menghilang. DanaAmerika terhenti, lalu Israel akan hidup dari mana ? Maka tidak heran, perdana menteri Israel Sharon cepat cepat memberi komentar tidak begitu mendukung gagasan Amerika menyerang Irak.

Ke tiga adalah Rusia, ekonomi Rusia makin tergantung kepada minyak mentah. Dia bukan anggota OPEC, tentu saja mengharapkan harga minyak yang tinggi agar bisa cepat kaya. Bila membiarkan Amerika mengusai sumber minyak mentah di Timur Tengah dan mengontrol harga minyak mentah dunia, Rusia bakalan hidup susah dan tetap miskin.

Ke empat adalah China. Sebetulanya posisi China cukup kritis, ketergantungannya terhadap minyak mentah Timur Tengha makin besar, bila membiarkanAmerika menguasai TimurTengah, sama saja mencekik leher China. Selama ini China memainkan kartu Irak-Iran dengan cukup cantik untuk menghadapi Amerika. Sampai saat ini China masih dianggap saingan atau lawan dan bukan kawan oleh Amerika, begitu Timur Tengah jatuh ke Amerika, sasaran berikutnya pastilah Taiwan. Makin sulit bagi China membujukTaiwan untuk bersatu kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Ke lima adalah Indoenesia dan ASEAN. Negara-negara ASEAN sangat sulit mengambil sikap terhadap Amerika. Dulu zaman Soekarno ada gagasan membentuk benteng pertahanan Pyongyang-Beijing-Hanoi-Jakarta untuk menghadapi ambisiAmerika dan kolonianisasi baru negaranegara Barat, tapi sejumlah tokoh pintar angkatan 66 dan militer di Indonesia lebih takut kepada pengaruh kekuatan anti-impresialis yang kebetulan dipimpin oleh negra-negara beraliran komunis-sosialis China, Korea Utara dan Vietnam. Sekarang kekuatan yang mampu mengimbangi ambisi Amerika sudah lenyap dengan melemahnya faham komunisme di Rusia dan Asia, lalu Indonesia dan Malaysia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim terpaksa berjuang sendirian menghadapi ancamanAmerika. Dengan terang-terangan Amerika bolak-balik menuduh kedua negara tersebut adalah sarang teroris Islam, lalu siapa bisa jamin, Indonesia atau Malaysia tidak menjadi sasaran serangan berikutnya dengan alasan membasmi sarang teroris ?

Ke enam adalah Perancis dan Jerman. Hubungan Perancis dan negara-negara Teluk punya sejarah panjang, Perancis mempunyai peranan dan kedudukan khusus di Timur Tengah. Dalam suasana anti perang negara-negara Teluk, bila Perancis tidak menyatakan sikap simpatiknya, jangan harap ada yang mau dengar kata-kata Perancis lagi. Bagi Jerman, perang berartiEUakan mengeluarkan dana perang, harus siap menampung pengungsi, dan biasanya porsi terbesar bakalan jatuh di Jerman. Bila Jerman yang paling kaya dan mampu tidak bersikap benar dan tidak melindungi kepentingan Jerman sendiri, bagaimana bisa memimpinEU ? Ditambah sedang menghadapi Pemilu tahun ini, pimpinan Jerman harus menunjukkan sikap independen, tidak membeo ikutAmerika.

Perlu Satu Suara

Bukan hanya negara-negara tersebut di atas, negara kecil seperti Finlandia juga menentang perang, kalaupun mau perang harus mendapat restu dari PBB. Tapi suara lemah negara-negara kecil tidak banyak gunanya, diperlukan dukungan negara besar, karena semua orang juga tahu bahwa Amerika tidak pernah menghiraukan stempel karet PBB.

Bahwa perang tersebut hanyalah utuk kepentinganAmerika (mungkin termasuk Inggris), jelas bertolak belakang dengan kepentingan banyak negara lain. Bila negra-negara tersebut mau mempertahankan kepentingan mereka, mereka harus bersatu menentang perang. Sayangnya tidak ada yang mau memimpin gerakan anti-perang.

Saat ini adalah masa kritis, solusi terbaik adalah bila beberapa negara besar bisa bekerja sama secara efektif, melalui jalur diplomatik yang canggih, di satu pihak tidak terang-terangan berlawanan dengan Amerika, di pihak lain memberi muka kepada Amerika untuk menghapus ambisi perang. Bila tidak bisa coba ramai-ramai main karet dengan Amerika, tidak jelas-jelas mendukung atau menentang Amerika, sambil memecah perhatian Amerika, sehingga rencana penyerangan ke Irak ditunda-tunda sampai akhirnya tidak jadi perang. Strategi konyol adalah secara lisan menentang perang tersebut tapi menutup mata sebelah membiarkanAmerika menguasai Timur Tengah.

Mumpung perang belum dimulai, saat ini adalah waktu yang paling kritis untuk menghindarinya. Mengadakan perang itu mudah dan adegan perang asyik ditonton di layarTV, tapi dampaknya dan usaha pemulihannya adalah sangat menyakitkan baik bagi yang kalah maupun yang menang perang. Demi kepentingan perdamaian dunia, masyarakat internasional seharusnya bersatu padu menentang perang Irak ini.

Mungkin saatnya ramai-ramai menulis email atau kirim SMS ke presiden Irak, membujuk Sadam Hussien untuk lengser kalaupun itu bisa menyelesaikan masalah secara tuntas di kawasan teluk. Kira-kira ada yang tahu nomor HP atau alamat e-mail Sadam ? (AH)